psikologi home-sickness

mengapa kita merindukan rumah justru saat sedang bersenang-senang

psikologi home-sickness
I

Pernahkah kita berada di tengah liburan impian, duduk di kafe pinggir jalan yang estetik, menikmati secangkir kopi, lalu tiba-tiba ada perasaan aneh yang menyelinap masuk? Semuanya sempurna. Cuacanya bagus, pemandangannya luar biasa, dan secara logika, kita sedang bersenang-senang. Tapi entah kenapa, di detik itu juga, kita malah membayangkan kasur kita yang agak berantakan di rumah. Ada rasa rindu yang mendadak muncul, memotong euforia liburan. Aneh, kan? Kok bisa kita merindukan rutinitas yang membosankan justru saat kita sedang menjalani petualangan yang seru? Ternyata, teman-teman, perasaan yang terasa seperti "kesalahan sistem" ini punya penjelasan ilmiah yang sangat masuk akal. Mari kita bedah pelan-pelan.

II

Sebelum kita membahas mengapa otak kita bisa begitu kontradiktif, kita perlu mundur sedikit ke abad ke-17. Dulu, rindu rumah bukanlah sekadar perasaan galau sesaat. Pada tahun 1688, seorang mahasiswa kedokteran asal Swiss bernama Johannes Hofer menciptakan istilah nostalgia, dari bahasa Yunani nostos (pulang) dan algos (rasa sakit). Hofer melihat banyak tentara bayaran Swiss yang jatuh sakit parah, kehilangan nafsu makan, bahkan meninggal, hanya karena mereka bertugas terlalu jauh dari Pegunungan Alpen. Ya, rindu rumah dulunya dianggap sebagai penyakit medis yang mematikan. Tentu saja, sains modern sudah mematahkan anggapan bahwa rindu rumah disebabkan oleh "darah yang mendidih" atau perubahan tekanan udara, seperti yang dipercaya orang-orang di masa itu. Kini kita tahu bahwa home-sickness murni urusan psikologis. Tapi, fakta ini justru memunculkan sebuah pertanyaan baru yang lebih membingungkan.

III

Logikanya begini. Kalau kita sedang tersesat di kota asing, kehabisan uang, dan diguyur hujan deras, wajar dong kalau kita rindu rumah. Rumah adalah tempat perlindungan. Tapi masalahnya, home-sickness sering kali menyerang justru saat kita sedang tertawa atau menikmati momen indah. Kenapa otak kita seolah-olah ingin menyabotase kebahagiaan kita sendiri? Mengapa saat kita sedang asyik, sistem di kepala kita malah menekan tombol alarm darurat? Apakah kita ini manusia yang tidak tahu bersyukur? Tentu tidak. Ini bukanlah soal rasa syukur, melainkan soal bagaimana otak kita mendesain rasa aman. Ada sebuah mekanisme rahasia di balik tengkorak kita yang bekerja tanpa henti. Mekanisme ini membenci kejutan, sehebat dan seindah apapun kejutan itu.

IV

Inilah rahasia besarnya. Otak manusia pada dasarnya adalah mesin prediksi, atau dalam neurosains sering disebut dengan konsep predictive coding. Otak kita selalu berusaha menebak apa yang akan terjadi selanjutnya untuk menghemat energi. Saat kita berada di lingkungan baru—meskipun itu vila mewah atau taman hiburan kelas dunia—otak harus bekerja ekstra keras. Semuanya tidak tertebak. Pemandangan baru, bau baru, bahasa baru, hingga letak saklar lampu yang berbeda. Otak kita dibombardir oleh stimulus sensorik. Walaupun stimulus itu menyenangkan dan memicu hormon dopamin, ia tetap memakan energi yang sangat besar. Ini yang disebut sebagai cognitive load atau beban kognitif.

Ketika kita sedang bersenang-senang secara maksimal, sistem saraf simpatik kita aktif. Ini adalah respons biologis yang sama dengan saat kita sedang stres, hanya saja versinya positif atau eustress. Nah, di puncak stimulasi inilah, otak kita yang kelelahan memproses hal baru tiba-tiba mencari efisiensi saraf. Ia merindukan kondisi di mana ia tidak perlu menebak apa-apa lagi. Di mana kita tahu persis letak sikat gigi, bagaimana bunyi derit pintu kamar, dan bagaimana aroma bantal kita. Kita sebenarnya tidak sedang merindukan bangunannya, kita merindukan "nol beban kognitif" yang ditawarkan oleh lingkungan rumah. Otak memberi sinyal rasa rindu agar kita memikirkan tempat di mana hormon oksitosin (hormon rasa aman) bisa kembali menenangkan sistem saraf kita.

V

Jadi, teman-teman, kalau di liburan berikutnya kita mendadak merasa melankolis dan rindu rumah saat sedang melihat kembang api yang indah, jangan merasa bersalah. Kita tidak sedang merusak suasana liburan. Itu hanyalah cara biologis tubuh kita berkata, "Hei, ini sangat menyenangkan, tapi aku butuh istirahat sejenak dari semua hal baru ini." Menyadari hal ini seharusnya membuat kita lebih rileks dan berempati pada diri sendiri. Home-sickness di tengah kebahagiaan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah bukti yang sangat indah bahwa di suatu tempat di dunia ini, kita memiliki sebuah titik jangkar emosional yang kuat. Sebuah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri secara utuh, tanpa otak kita perlu bekerja keras menerka-nerka dunia. Dan bukankah mengetahui bahwa kita punya tempat senyaman itu untuk pulang, adalah sebuah kemewahan tersendiri?